Jumat Curhat #17: Sabtu Bersama Bapak

sabtu bersama bapak review

Sejak baca bukunya beberapa bulan lalu, saya jatuh cinta sama cerita Sabtu Bersama Bapak. Sebagai anak perempuan yang ditinggal Papa sejak kecil, buku ini seperti mengobati kangen saya ke Papa. Saya yang biasanya males baca novel tebel – tebel, selalu berusaha untuk cepet – cepet selesai. Rasanya kayak nanggung banget pas lagi baca dan ternyata ada klimaks yang ngeganggu kalau nggak dibaca sampai tuntas. Akhirnya saya menyelesaikan buku itu kurang dari satu minggu saat saya beli sewaktu staycation di Yogyakarta.

Continue reading “Jumat Curhat #17: Sabtu Bersama Bapak”

{rudy habibie}, film kedua Habibie & Ainun (Review)

rudy habibie 2

Sebenarnya, saya termasuk pilih – pilih kalau soal nonton film Indonesia di bioskop. Sebelum menonton, saya selalu usahakan baca sinopsis dan trailer-nya, plus baca review – review yang sudah bertebaran di internet. Termasuk ketika pertama kali saya menonton Habibie & Ainun yang tayang tahun 2012 lalu. Setelah menonton, saya bahkan rela berburu bukunya. Dan perburuan saya nggak sia – sia, di bukunya tertulis banyak cerita yang lebih dalam dan bikin perasaan campur aduk. Sejak saat itu, saya benar – benar jatuh cinta pada sosok Pak Habibie. Apalagi menurut saya Reza Rahadian sukses menjadi Rudy Habibie, baik cara ia berjalan apalagi saat berbicara dengan logat Jermannya yang pas. Telat memang, setelah ada filmnya saya baru mengidolakan seseorang yg memang luar biasa besar jasanya bagi Indonesia. Tapi, bukannya nggak ada kata terlambat? Dan bukannya lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali?

Continue reading “{rudy habibie}, film kedua Habibie & Ainun (Review)”

Thank You Ada Apa Dengan Cinta 2, Akhirnya Bisa Nostalgia Berjamaah

Kalau boleh jujur, saya sebenarnya jarang atau bahkan baru bisa dihitung dengan tangan membuat tulisan tentang review film. Bukan apa – apa, saya tipikal orang yang kalau nonton menikmati setiap alur ceritanya dan setelah selesai menonton, adegan – adegan di dalam filmnya seolah menguap tanpa bekas. Hanya beberapa film yang bisa dihitung tangan yang masih saya hafal dialog serta alur dan plot ceritanya. Salah satunya Ada Apa Dengan Cinta, 14 tahun lalu. Walaupun waktu itu saya baru kelas 5 SD, saya berhasil berkali – kali menontonnya tanpa bosan hingga kemarin malam. Apalagi, saya punya kenangan dengan AADC, waktu itu nontonnya sama temen – temen segenk. Masih kecil udah punya genk? Itu semua berkat AADC ahahaha. Malahan nama genknya ya Cinta itu, percaya nggak percaya, saya-lah Cinta-nya hihihi.

Continue reading “Thank You Ada Apa Dengan Cinta 2, Akhirnya Bisa Nostalgia Berjamaah”

[REVIEW] We Are The Millers, Serunya Punya Keluarga Dadakan!

were-the-millers2Sinopsis

A veteran pot dealer creates a fake family as part of his plan to move a huge shipment of weed into the U.S. from Mexico.

Seorang pengedar narkoba menciptakan sebuah keluarga palsu sebagai bagian dari rencananya memindahkan ganja ke U.S dari Meksiko

Review

Film yang rilis bulan Agustus tahun 2013 ini menjadi temen gue di weekend lalu. Sebenernya gue udah nonton berulang kali filmnya dan nggak pernah bosen! Film komedi keluarga yang berbau hal – hal dewasa ini menceritakan tentang David (Jason Sudeikis), pengedar ganja terkenal di kotanya, harus mencari ide bagaimana mengembalikan uang puluhan ribu dollar ke bosnya. Sebagai gantinya, si bos meminta David untuk menjadi kurir pengganti mengambil sedikit ganja di Mexico dan harus berpura – pura menjadi orang suruhan Pablo Chacon. Saat kebingungan mencari ide, Kenny, tetangganya, memberikan masukan bahwa David harus menyamar. Dan ide itu muncul, David ingin menyamar sebagai turis di Mexico.

we-re-the-millers05

David mengajak Sarah (Jennifer Aniston) untuk berpura – pura menjadi istrinya dan Casey, seorang gadis tunawisma, untuk menjadi putrinya. Jadilah mereka sebagai The Millers alias keluarga Miller. Awalnya semua berjalan lancar. Saat RV yang mereka tumpangi masuk ke Mexico dan bertemu dengan bos ganja disana lalu mereka berhasil membawa ganja yang ternyata memenuhi RV mereka. Selanjutnya, keluarga konyol ini harus bersusah payah menyelundupkan ganja dan menghindari kejaran Pablo Chacon.

6-were-the-millers-quotes

Film ini gue rekomendasiin buat lo yang udah 17++ dan butuh film yang nggak mengharuskan elo mikir macem – macem. Cukup nonton dan ketawa ngakak atau deg – degan sendiri selama film diputar. Buat yang belum nemu DVD-nya, elo bisa bayangin sedikit gimana serunya saat pengedar ganja menjadi ayah dan beristri seorang penari striptis dan beranakan seorang cowok remaja yang belum pernah ciuman dan seorang gadis tunawisma yang menjadi bungsu digabungkan menjadi satu! Kalau udah nonton, kabarin gue ya!

Rate: 7/10

[REVIEW] Annabelle (The Conjuring) 2014, Antara Ekspektasi Dan Kenyataan

Bagi beberapa orang, termasuk gue, mendengar nama Annabelle udah langsung mikir ke boneka yang ada di film The Conjuring. Awalnya, gue emang nggak kenal sama boneka kayu berwujud gadis berambut kepang dua ini. Semuanya berkat The Conjuring, film horor yang berhasil bikin gue nggak berani ngeliat ke luar kamar kalau pintu kamar gue tiba – tiba kebuka sendiri pas malem – malem. Walaupun gue tau, pintu itu kedorong angin, tapi tetep aja gue parno sendiri.

Mungkin bukan gue doang yang parno semenjak nonton The Conjuring. Jujur deh, pasti ada diantara kalian yang parno sama hal – hal yang bikin kaget setelah nonton film yang disebut – sebut sebagai film horor teroke sepanjang masa. Dan hati gue seolah bilang ‘Hip Hip Hurray!’ saat pertama kali gue denger kalau Annabelle mau dibuatin film sendiri. Ekspektasi gue langsung tinggi, gue berharap filmnya bakal semenakutkan The Conjuring atau minimal bikin gue parno seminggu setelahnya. Menurut gue faktor sukses atau tidaknya sebuah film bergantung pada seberapa parno orang setelah nonton filmnya.

Dengan berbekal popcorn rasa manis ukuran kecil, gue memberanikan diri nonton Annabelle sendirian. Pulang kerja, pas hampir maghrib di hari Jumat, gue mampir ke Djakarta Theatre dan di studio 1 gue memasrahkan diri gue. Apakah gue bakal pulang dengan wajah ketakutan dan parno kalau ngapa-ngapain atau justru gue bakal cekikikan nggak berhenti karena filmnya nggak serem – serem amat? Well, gue masuk ke studio dengan muka udah agak parno. Yang lain nonton sama gebetannya, gue sendirian. Pake baju abis kerja pulak! Huft. Lha gue kenapa jadi curhat gini yak -_-

MV5BMjM2MTYyMzk1OV5BMl5BanBnXkFtZTgwNDg2MjMyMjE@._V1_SX640_SY720_

Sinopsis

John Form (Ward Horton) akhirnya menemukan hadiah yang selama ini dicari oleh istrinya Mia (Annabelle Wallis). Boneka Annabelle sangat ditunggu Mia yang juga sedang menanti kelahiran anak pertamanya.
Di malam pertama boneka Annabelle berada dalam rumah pasangan muda ini, rumah mereka di serang oleh kelompok pemuja setan. Teror yang menyebakan darah tumpah dirumah tersebut. Kekuatan jahat kini berada dalam boneka dan mengincar John, Mia serta anak mereka yang baru saja lahir.

Review

Entah karena emang pengen menyegarkan ingatan penonton atau memang idenya berawal dari The Conjuring, Annabelle dibuka dengan 3 orang sekawan yang sedang curhat ke paranormal ternama. Yup, adegan pertama film The Conjuring menjadi pembuka film Annabelle pula. Lalu plot berganti ke sekitar setahun sebelumnya. Tinggallah Mia, mahmud alias mamah muda yang lagi hamil tua hidup bahagia bersama suaminya. Awalnya, kehidupan Mia dan suaminya baik – baik saja. Sampai suatu saat suaminya memberikan sebuah boneka kayu yang selama ini diidam-idamkan Mia. Dan pada malam harinya, tetangganya tewas dibunuh oleh anak mereka yang mengikuti sekte sesat. Disini, ceritanya makin nggak jelas karena nggak detail. Soal sekte sesat nggak dibahas mendalam, menurut gue ini jadi bikin penontonnya bingung sendiri. Boneka kayu kesayangan Mia justru direbut oleh si anak tetangga yang mengikuti sekte sesat. Singkat cerita keadaan makin rumit dan akhirnya si anak tetangga yang bernama Annabelle itu bunuh diri dengan memangku boneka kayu itu.

ANNABELLE

Setelah kejadian itu, si boneka kayu mulai bersikap aneh. Suka pindah – pindah tempat, menggerakkan kursi goyang dan yang paling parah saat dibuang ia kembali ada di rumah baru Mia. Semakin kesini, makin banyak penampakan makhluk gaib berwujud iblis hitam yang berusaha merebut nyawa Mia. Sempet klimaks, tapi jujur hantunya nggak serem. Kalau bukan karena popcorn dan sound effect yang ngagetinnya setengah mampus, gue pasti bakalan tidur selama film diputar. Nggak sesuai ekspektasi gue. Nggak semenarik The Conjuring, Cuma lumayan buat yang mau teriak – teriakan kaget sama sound effectnya, bukan karena hantu atau jalan ceritanya.

media_annabelle_20140717

Agak kecewa saat gue selesai nonton filmnya, seolah udah ketebak dari awal gimana ending filmnya. Sosok Annabelle yang selama ini ditakut – takutin seolah berubah biasa aja di film ini. Kecewa banget L Dan setelah gue selesai nonton, gue sempet denger di sebuah radio kalau aka nada sekuel Annabelle featuring Chucky! Siapa yang nggak kenal Chucky? Apakah Annabelle bakal jadi selingkuhannya Chucky? Secara Chucky dan Tiffany udah pacaran lama. Tapi Annabelle jahat banget yak jadi orang ketiga L anyway, semoga sekuelnya bener – bener ada dan nggak mengecewakan. Seenggaknya jadi obat kecewa karena ngerasa rugi beli tiket dan popcorn.

PS: Jangan berekspektasi atau baca review kalau belum nonton filmnya!

Rate: 5/10

[REVIEW] Hercules 3D, Bukan Film Action Biasa

Finally, gue dapet undangan screening dari AnakNonton karena menang kuis yang mereka adain. Untungnya, salah satu temen gue (Dhiko), juga menang kuis ini so gue nggak sendirian banget nontonnya. Perjalanan menuju tempat screening di XXI Plaza Indonesia sore itu macet parah. Gue harus ngerogoh kocek sekitar 70rb untuk naik taksi dari kantor yang lokasinya di Wr. Buncit. Pfffttt. Tapi semua kebayar karena ini screening, jadi gue merasa beruntung jadi salah satu orang biasa yang pertama nonton Hercules di Indonesia. Yeay! *joget-joget*

hercules_ver2_xlg

Hal yang pertama kali bikin gue excited nonton film ini adalah Dwayne Johnson sebagai pemeran Hercules. Ihiy, ngeliatin otot si mas Dwayne bikin jantung mau copot :3 dan ternyata filmnya seru abis! Sebelum baca review gue, nih gue kasih sinopsisnya:

Setelah melegenda selama 12 tahun, Hercules, yang diyakini memiliki jiwa setengah dewa Yunani (Zeus), memilih hidup sebagai pahlawan bayaran saat raja Thrace dan putrinya mencari bantuan untuk mengalahkan panglima perang tirani.

Review:

Film bergenre action – adventure yang berdurasi 98 menit ini nggak hanya menampilkan adegan – adegan kekerasan. Walaupun gue percaya bahwa film ini memang ditujukan untuk penonton dewasa tapi kehadiran para pengikut setia Hercules justru menambah sisi – sisi humor dan menyentuh di bagian – bagian penting filmnya. Contohnya si matre Autolycus yang diperankan oleh Rufus Sewell, si manusia setengah hewan Tydeus yang tak bisa bicara dan diperankan oleh Aksel Hennie, si cantik namun jago memanah si Atalanta yang diperankan oleh Ingrid Bolso Berdal, dan ada seorang keponakan Hercules yang gue lupa namanya. Dia jago cerita tentang legenda Hercules walaupun 80% dari ceritanya itu lebay.

Hercules-Featured

Hercules emang udah jadi legenda dari gue kecil kalau dia itu emang kuat banget dan nggak ada satu orangpun yang bisa membunuh dia kecuali para dewa. Tentu aja, di film ini adegan kekerasan nggak tanggung – tanggung. Gue saranin untuk yang punya phobia sama darah dan nggak suka sama adegan kekerasan yang kacau banget mending nggak usah nonton deh. Ciyus!

123a

Satu hal pelajaran yang gue petik dari film ini, kita jangan mudah percaya sama orang yang baru kita kenal. Apalagi kalau dia minta tolong dengan imbalan yang gede banget. Ngebantu orang itu nggak harus pake imbalan kan? Hal itu juga yang membuat Hercules sadar. Awalnya dia membantu raja Cotys namun setelah ia menyadari ada yang salah akhirnya ia berupaya agar raja Cotys lengser. Kenapa? Nonton aja filmnya 😛

Rate: 8/10

[REVIEW] Guardians Of The Galaxy, Ketika Super Hero Punya Masalah Sendiri

Nonton film di bioskop emang udah kayak hal wajib yang gue lakuin tiap weekend, apalagi kalau filmnya rame diomongin di social media atau media – media lainnya. Dan kali ini, bukan karena habis baca review atau sinopsisnya, tapi karena adik sepupu kesayangan gue mengajak nonton Guardian Of The Galaxy dan dia kekeuh harus nonton filmnya hari itu juga. Awalnya gue agak males – malesan karena seminggu terakhir ini gue nggak terlalu banyak denger review film ini. Seperti kebiasaan gue sebelum – sebelumnya, gue nggak akan baca sinopsis film yg akan gue tonton. Why? Karena gue nggak mau berekspektasi terlalu banyak. Gue membiasakan untuk membaca sinopsis setelah nonton supaya gue bisa mereview secara subjektif dari sudut pandang gue.
Siang itu gue dan adik sepupu akhirnya sepakat nonton di XXI Grand Mall Bekasi. Gue dating jam 11.30 dan ternyata bioskop baru buka jam 12.30 ya mau nggak mau menghabiskan waktu sambil main muter – muterin mall yg nggak terlalu gede itu.
Sebelum baca review gue, mending baca sinopsisnya dulu:
Setelah 26 tahun diadopsi oleh cahaya yang datang ke bumi, Peter Quill menemukan dirinya menjadi target utama oleh para pemburu manusia setelah menjelajahi planet incaran Ronan.

 

18b149286ca6f2920e017bd5d2ffcbf5

Review:
Kalau lo butuh film untuk refreshing otak alias nggak usah terlalu mikir, lo wajib nonton film ini! Keren! Dengan plot yang dibuat standar, penonton diajak berjelajah ke planet lain, planet Nova. Sasaran utama Peter Quill (diperankan oleh Chris Pratt) adalah sebuah orb yang mempunyai kekuatan yang bisa menghancurkan dunia. Peter yang diperintahkan oleh ayah-angkatnya, Yondu Udonta (Michael Rooker), menemukan sebuah orb berbentuk bulat yang di dalamnya terdapat kepingan berwarna ungu yang bisa member kekuatan bagi mereka yang memegangnya. Ternyata Peter tidak sendiri, ada Gamora (Soe Saldana) yang merupakan anak tiri Ronan yang juga diperintahkan untuk memburunya.
Film terasa lebih seru saat Rocket yang merupakan sebuah Rakun (disulihsuarakan oleh Bradley Cooper) dan sebatan pohon bernama Groot (disuarakan oleh Vin Diesel) juga berburu orb tersebut di planet Nova. Semenjak ada Groot, suasana film lebih hidup karena ternyata si Groot nggak bisa ngomong apa – apa selain ngomong “I’m Groot” hahahahha.
Seperti film – film superhero lainnya, Peter akhirnya bergabung dengan Gamora, Rocket serta Groot. Saat mereka ber-4 tertahan di penjara, mereka bertemu dengan Drax (Dave Bautista) yang ternyata ingin membalaskan dendamnya kepada Ronan (Lee Pace). Ternyata, Gamora pun punya dendam kesumat kepada keluarganya. Ternyata seorang Super Hero punya masalah yang bikin mereka jadi loser. Di film ini diceritakan bahwa masing – masing super hero punya masalah pribadi dan mereka mencoba membalaskan dendamnya masing – masing.

 

guardians-galaxy-big
Akhirnya dibantu Yondu Udonta (Michael Rooker), ke – 5 superhero (Peter, Ganora, Drax, Rocket dan Groot) menyerang Ronan, Nebula (Karen Gilan), dan pasukannya. Sedihnya, Groot mati dalam peperangan. Namun Rocket menanam batangnya di sebuah pot dan akhirnya baby Groot tumbuh berkat air mata kehilangan Rocket.
Film keluarga yang pas ditonton untuk remaja atau anak diatas 10 tahun ini bisa ngebuat weekend makin seru. Nonton ya guys!

Rate: 7/10

 

[Review] Transformers: Age Of Extinction, saat ‘benih’ diperebutkan si jahat dan si baik

transformers_age_of_extinction_grimlock-optimus-poster2-610x892

Di tahun 2014 banyak sekuel film wajib tonton tayang di bioskop, Transformers salah satunya. Gue akui, gue sangat suka dengan film animasi yang bercerita tentang Deceticon melawan Autobots ini. Dari sekuel pertamanya, gue jatuh cinta dengan sosok Sam, Bumble bee dan Optimus Prime. Saking cintanya, gue pastikan selalu nonton premiere sekuel nya di bioskop. Ngomong – ngomong soal sekuel, Transformers kembali hadir memuaskan rasa kangen para pecintanya dengan film terbarunya bertajuk Transformers: Age Of Extinction. Dan gue akhirnya berhasil nonton film ini pas malam takbiran kemarin. Telat banget sih emang, ini karena kerjaan gue yang makin agak banyak, tapi karena gue ngefans banget sama film ini akhirnya gue nemuin momen yang pas buat nonton.

Awalnya gue sengaja nggak baca sinopsis nya dan udah PD bahwa gue bakal nemuin Sam atau siapapun orang – orang yang gue kenal di film ini. Ternyata gue salah, no more Sam Witwicky! Yup, ternyata kehadiran Sam diganti dengan Cage Yeager yang diperankan oleh Mark Wahlberg . Awalnya agak sedikit kecewa karena gue berharap bisa ngeliat muka Shia Labeouf . Tapi semua kecewa langsung dibayar dengan keseruan yang dimulai dari awal hingga akhir. Cage yang seorang single parent dan juga si pengumpul barang bekas. Dan tanpa nggak sengaja Cage jatuh cinta sama sebuah truk tua yang ternyata adalah Optimus Prime. Kejadian demi kejadian menegangkan dan mengancam jiwa Cage dan Tessa (diperankan oleh Nicola Peltz) putri tunggalnya langsung bermunculan satu demi satu. Para agen CIA masih menganggap Optimus Prime dan kawan – kawannya adalah bagian dari Decepticon yang membahayakan bumi. Filmnya semakin seru saat hadirnya Joshua Joyce (Stanley Tucci) si pemilik perusahaan KSI yang berniat menduplikasi para Autobots ke versi modern. Sayangnya Joshua salah memilih objek sehingga yang ia duplikasikan ternyata adalah para Decepticon yang mempunyai misi untuk menghancurkan bumi.

Transformers-4-Age-of-Extinction-Optimus-Prime-Poster

Film karya sutradara Michael Bay ini sebenarnya ditujukan untuk remaja. Cuma kemarin gue nonton dengan dikelilingi para anak – anak yang mendewakan Optimus Prime. Nggak heran di sekuel kali ini semakin banyak adegan action para Autobots yang berusaha melawan Decepticon yang ingin memiliki benih untuk menghancurkan bumi. Kali ini Optimus Prime tak hanya dibantu oleh para Autobots, tapi juga dibantu oleh para Decepticon yang berhasil diajaknya bekerjasama dan juga dibantu oleh Cage yang berusaha mati – matian sekuat tenaga untuk melawan Galvatron, si Decepticon buatan KSI.

Transformers-Age-of-Extinction-Desktop-Images

Di akhir film kita disuguhkan pertanyaan besar, “Apakah Optimus Prime berhasil melawan Decepticon?” Gue rasa jawabannya ada di film selanjutnya. Nggak sabar nunggunya! Film ini bisa masuk ke list wajib nonton loh. Jadi, sempetin buat nonton filmnya ya!

Rate: 7/10

Edge Of Tomorrow [2014] Live. Die. Repeat #Review

Image

Mayor William Cage (Tom Cruise), seorang perwira di AS yang terpaksa harus menjalani pertempuran yang sebenarnya. Pertempuran itu hanya merupakan bentuk misi bunuh diri karena harus berjuang melawan serangan alien yang entah dari mana datangnya. Alien tersebut disebut dengan nama Alpha. Cage bersama sejumlah anggota militer lainnya harus berjuang melindungi diri dari serangan Alpha yang siap menyerang kapan saja.

Dari awal film, penonton disuguhkan dengan plot maju mundur, saat Cage terbangun dari tidurnya ternyata ia sudah berada di pangkalan militer dan besok paginya ia harus menggunakan baju besi yang membuatnya tampak seperti robot. Cage yang tak pernah berada di situasi segenting itu merasa kebingungan. Hingga akhirnya ia bertemu dengan prajurit wanita yang cukup menarik perhatiannya. Namun tak berapa lama prajurit yang bernama Rita Vrataski (Emily Blunt) itu mati diserang Alpha. Dan kemudian Cage pun mati pula. Namun anehnya, setiap Cage terbunuh setiap itu pula ia mengulang hari yang sama.

Image

Hingga akhirnya setelah kematiannya yang kesekian kali, Rita meminta Cage untuk menemuinya saat ia terbangun. Dan benar saja saat Cage terbangun ia langsung mencari Rita yang dikenal dengan Angel of Verdun karena Rita pernah berhasil membunuh Alpha di Verdun. Rita juga memiliki kelebihan yang dimiliki Cage dulu, namun setelah ia mengalami kecelakaan dan harus ditransfusi darah ia kehilangan kemampuannya. Namun ternyata pusat dari penyerangan alien itu bukan Alpha, melainkan Omega yang lokasinya tak diketahui siapapun.

Rita mengajarkan Cage untuk bertahan hidup dan sebisa mungkin melawan Alpha, apabila Cage gagal maka Rita akan membunuhnya. Begitu seterusnya hingga Cage dan Rita diserang sejumlah pasukan yang mencoba menggagalkan aksi mereka. Cage kekurangan darah hingga harus di transfusi. Hal itu membuatnya putus asa karena kekuatannya telah lenyap seketika.

Berbekal keinginan untuk membasmi serangan yang telah menghancurkan kota, akhirnya Cage berhasil mengajak pasukan J untuk membantunya dan Rita membunuh Omega. Mereka terbang ke Prancis namun ternyata Alpha menyerang pesawat mereka. Mereka berusaha sekuat tenaga untuk menyerang Alpha yang jumlahnya puluhan kali lipat dari mereka. Hingga akhirnya seluruh pasukan J tewas, dan hanya Rita dan Cage yang masih hidup.

Image

Dalam kegalauan karena Cage tak mampu mengulang hari, mereka berdua mencoba menyerang Alpha dan Omega. Rita berhasil memancing perhatian satu Alpha sehingga membuat Cage bebas memburu Omega yang berada di bawah dam. Hingga akhirnya Cage berhasil mengebom Omega walaupun mempertaruhkan nyawanya. Namun cairan Omega mengalir di dalam darah Cage sehingga ia kembali mengulang hari.

Di bagian akhir, Cage terbangun dan tetap menjadi Mayor yang melihat pasukan J latihan menghadapi perang. Cage pun bertemu dengan Rita yang tak mengenal dirinya. Endingnya, cukup bahagia karena alien berhasil di basmi tanpa mengorbankan satu nyawa pun.

Review: Film yang cukup membuat kita berfikir selama menontonnya. Karena adegan Cage mengulang hari terjadi puluhan kali. Tapi cocok buat ditonton sama pasangan atau sama keluarga karena sosok heroik Tom Cruise sesekali diselipi adegan-adegan lucu yang membuat kita tertawa.

 

Rating : 8/10